Profesi Idaman Karena
Keasyikan Main Uang
Rupiah terpuruk, perekonomian gonjang-ganjing, dan
negara di ambang kebangkrutan. Ekonom bersuara, tak
ketinggalan pula para anggota DPR. Pengamat baru bermunculan.
Makin bingunglah orang. Uraian siapakah yang jadi pegangan?
"Tak ada yang bisa memberikan gambaran soal pasar
uang dengan lebih jelas selain para pemain Forex (Valas),"
kata Theo Francisco Toemion (42), pengamat pasar uang
sekaligus pemain Forex (Valas), meski kini lebih banyak
membagi pengetahuan soal dunia yang telah belasan tahun
ditekuninya itu kepada orang lain.
Ada
perbedaan antara pandangan para pakar dengan Theo F.
Thoemion sehubungan dengan krisis ekonomi yang memburuk
sejak kuartal terakhir tahun lalu. Pihak pertama lebih
melihat krisis berpangkal pada lemahnya sistem perbankan,
kebocoran anggaran, buruknya pengawasan, monopoli, kolusi,
korupsi, nepotisme, dan ekonomi biaya tinggi. Sedangkan
Theo lebih melihat ulah spekulan di pasar uang sebagai
sebab paling dominan. Sisi-sisi negatif penyebab keroposnya
fondasi ekonomi itulah yang menyebabkan krisis tak segera
bisa diatasi. Kalau Korea, Thailand, Filipina, Singapura,
dan Malaysia bisa pulih dalam hitungan bulan, negara
kita jauh lebih lama.
Sebagai pelaku pasar Forex (Valas), Theo tahu betul,
tanda-tanda bencana telah muncul sejak lama. Semuanya
adalah permainan para fund manager atau pemain pasar
Forex (Valas), yang diwarnai keinginan untuk menguji
ketangguhan otoritas moneter suatu negara. Ia tahu bagaimana
pedagang besar Forex (Valas) - yang acap disebut spekulan
- semacam George Soros memainkan peran dalam Yendaka,
melambungnya nilai tukar Yen terhadap AS $, pada 1994.
Ia juga mencatat, permainan para spekulan di Eropa memaksa
pembahasan mata uang tunggal Eropa (Euromoney) lebih
diintensifkan pada 1996. Selewat masa itu, para spekulan
memang menurunkan aktivitas. Tapi lewat media massa
Theo memperingatkan, "Hati-hati, bukan mustahil
mereka akan mengalihkan perhatian ke Asia," begitu
antara lain tulisnya saat itu. "Mereka menunggu
kesempatan bermain mata uang menarik, exotic currencies
seperti Won, Bath, Peso, Ringgit, atau Rupiah. Jangan
lupa, Indonesia negara kaya. Karena itulah mereka membidik
kawasan ini, bukan ke Afrika, misalnya."
Betapa tidak. Salah satu kawasan paling dinamis di
dunia, dengan pertumbuhan ekonomi tiap negara rata-rata
7%/tahun, itu tak punya batasan berarti bagi lalu-lintas
devisa. Otoritas moneternya juga belum teruji. Kalau
dalam persaingan di Amerika, Eropa, dan Jepang para
spekulan sering kalah, siapa tahu di kawasan ini. Maka
bermainlah mereka.
Pertengahan tahun lalu, saat pemerintah memperlebar
pita intervensi, mereka menangkap sinyal "tantangan"
itu, dan terpacu gairah untuk bermain dengan Rupiah.
Ketika Oktober 1997 duet Soedradjat Djiwandono - Mar'ie
Muhammad memutuskan untuk melepas ambang intervensi,
mereka pun mendobrak. Rupanya, keputusan historis untuk
membiarkan Rupiah mengambang bebas itu tak didukung
kondisi yang cukup. Nilai tukar dikuasai dan dimainkan,
bahkan dalam seminggu bisa terdepresiasi sampai 50%.
Utang membengkak, harga barang melonjak, produksi mandek,
banyak perusahaan bangkrut. Inflasi membubung, dan perekonomian
nyaris ambruk. Tak disangka, fondasi ekonomi kita demikian
keropos.boleh ada berita buruk.
Ada 4 faktor yang menurut Theo bisa jadi penentu naik
turunnya kurs: fondasi ekonomi makro, carta/grafik berdasarkan
rumus, faktor teknis-psikologis, dan ulah para spekulan.
Soal fondasi ekonomi, menurut Theo, pasar telah mendapat
bukti rentannya perekonomian kita. Carta atau grafik
pun sudah dibuat saat kita menempuh rezim devisa terkontrol;
misalnya dengan mematok depresiasi tahunan 3 - 4%. Sedangkan
faktor psikologis sangat berhubungan dengan ulah spekulan,
apa lagi dalam rezim devisa bebas. "Sekali pasar
memperoleh bukti mata uang suatu negara bisa didikte,
mereka mendikte terus."
Pendiktean harga, yang terjadi setelah ada dorongan
psikologis, berawal dari berita-berita politik yang
berpotensi "dimainkan". Theo menunjuk contoh,
seluruh dunia tahu Indonesia pra-11 Maret 1998 menghadapi
suksesi. Maka berita tentang Presiden Soeharto dan situasi
sosial politik menjadi bahan permainan spekulan. Keadaan
sakit, yang dalam bahasa Inggris bisa dirumuskan dalam
beberapa kata, mulai dari He's sick, He's ill, sampai
He's seriously ill, mengakibatkan beraneka nilai kurs.
Memang benar. Menurut catatan Theo, grafik penurunan
itu berlangsung sejak bank sentral ketahuan tak punya
nyali sehingga menyebabkan Rupiah turun dari Rp 3.000,-
ke Rp 3.800,- terhadap AS $. Angka turun lagi ke Rp
4.400,- karena Pak Harto istirahat. Kemudian menjadi
Rp 4.800,- karena imbas krisis Korea, turun ke Rp 5.600,-
karena Pak Harto batal ke Malaysia, dan dari Rp 6.200,-
ke Rp 9.000,- karena pencalonan B.J. Habibie sebagai
wakil presiden. Kurs membaik setelah penandatanganan
nota kesepakatan dengan IMF 15 Januari, namun turun
lagi setelah terjadi beberapa kerusuhan dan demonstrasi.
Kenyataan itu membuktikan, dalam rezim devisa bebas
segala berita dan peristiwa baik menjadi syarat utama.
Dalam berbagai kesempatan Theo mengingatkan, membiarkan
Rupiah mengambang bebas sama dengan bunuh diri tanpa
dibarengi perbaikan di segala sektor yang akhirnya melahirkan
berita buruk. Percuma ada janji segala macam reformasi,
penghapusan monopoli dan oligopoli, tetapi tak ada wujudnya.
Dapat dimengerti, naik-turunnya nilai Rupiah tak lagi
ditentukan oleh hukum ekonomi, keseimbangan antara penawaran
dan permintaan. "Tak ada teori yang bisa menjelaskan
hal ini," kata Theo. "Saat masyarakat makin
tahu persoalan, omongan para ekonom sering diabaikan.
Pemain seperti saya yang diperhatikan"
Lantas, berapa kurs AS $ yang wajar? "Ambil nilai
terakhir sebelum krisis Rp 2.400,-. Ditambah 80%-lah,
sekitar Rp 4.320,-." Penjelasannya, dalam 10 tahun
terakhir perbedaan suku bunga antara AS $ dan Rupiah
sekitar 10%. Suku bunga AS $ 5% dan suku bunga Rupiah
15%. Selisihnya 10%, dan dalam 10 tahun menjadi 100%.
Sementara depresiasi per tahun, katakanlah 4%. Jadi
dalam 10 tahun menjadi 40%. "Nah, selisih antara
perbedaan suku bunga dan depresiasi dalam 10 tahun,
100% - 40% = 60%. Tak usah dipatok 60%; beri kemungkinan
sampai 80% untuk ditambahkan pada kurs terakhir. Jadi
180% dari Rp 2.400,- = Rp 4.320."
Tapi sekali lagi kenyataan membuktikan, segala teori
dan hukum ekonomi tak berlaku bagi kurs yang liar karena
permainan.
Kalau kita konsisten,
pasar akan respek
Dunia
perdagangan Forex (Valas) dewasa ini bagaikan dikontrol
para fund manager besar yang disebut big boys. Menurut
Theo, jumlah big boys yang tercatat saat ini 2.500 orang.
Akumulasi modal mereka sekitar AS $ 1.300 miliar, dan
dalam keadaan terpaksa bisa mendapat pinjaman hingga
10 kali lipatnya. Jumlah ini sungguh raksasa, sebab
cadangan devisa negara-negara kaya yang tergabung dalam
OECD pun kalau digabung tak lebih dari AS $ 700 miliar.
Maka bisa dibayangkan betapa konyolnya gagasan untuk
melawan spekulan dengan cadangan devisa hanya AS $ 20
miliar, misalnya.
Dari 2.500 big boys itu terbawa serta ribuan orang
lain sebagai mitra atau pelaksana. Sudah menjadi kebiasaan,
pengambilan posisi para pelaksana ditentukan oleh tokoh
besar. Jika Soros, misalnya, mengambil posisi Rp 9.000,-
untuk 1 AS $, yang lain pasti mengikuti. Jika esoknya
Soros menjual dengan harga Rp 9.500,-, yang lain pun
pasti ikut. Semua serempak, dan begitulah nilai mata
uang dimainkan.
Kalau mata uang suatu negara dipatok pada nilai tetap,
spekulan memang tidak lagi bisa main. Hanya saja, menurut
Theo, konsekuensinya ada dalam perekonomian negara yang
bersangkutan. Bagi Theo, reformasi ekonomi apa pun yang
dipilih pemerintah tak penting benar, asal bisa mengatasi
segenap konsekuensinya. Misalnya, pelepasan batas intervensi
mensyaratkan perbaikan ekonomi total, sedangkan pematokan
nilai uang mensyaratkan cadangan devisa yang cukup dan
perbankan yang sehat.
"Tak bisa pula dilepaskan faktor keberanian bank
sentral. Kepada siapa pun yang mau memaksakan kehendak,
bank sentral tak boleh setengah hati. Kalau perlu habis-habisan
berintervensi. Jika ini terus berlanjut, dan dunia membuktikan
konsistensi kita, pasar pun akan segan," kata Theo.
"Betapa pun kuat dan nafsunya spekulan, kalau menghadapi
otoritas moneter yang teguh dan konsisten, mereka juga
berpikir untuk main-main. Seperti pernah dialami Hongkong,
para spekulan menghentikan serbuan karena tahu Inggris
berada di belakangnya. Tak seorang pun ragu ketangguhan
sistem keuangan Inggris."
Kasus Indonesia, menurut Theo, adalah bukti kesekian
dari pelecehan para big boy terhadap otoritas moneter.
Permainan selisih kurs antara Rupiah - AS $ jauh lebih
mudah ketimbang permainan selisih kurs Yen - AS $ atau
Mark Jerman - AS $ yang didukung otoritas moneter sangat
berwibawa, dan karenanya disebut hard currencies. Akibatnya
sangat mudah diterka, bahkan oleh ibu-ibu rumah tangga,
pihak yang acap disalahkan karena dikira ikut-ikutan
berspekulasi. Masalahnya, menurut Theo, selain tuduhan
itu tak benar karena jumlahnya tak seberapa dibandingan
dengan aktivitas pasar uang, pemikiran para ibu sangat
simpel. Jika dulu mudah menghitung depresiasi, 3 - 4%
setahun, siapa sangka tiba-tiba depresiasi bisa 20%
dalam sehari? Kalau punya simpanan Rupiah dan berbunga,
katakanlah 40%, pada akhir tahun tak akan mencapai jumlah
jika didolarkan. Pada akhirnya memang tak ada pihak
yang bisa disalahkan kalau terjadi perburuan mata uang
asing, karena negara menganut rezim devisa bebas.
Menggelinding seperti bola
salju
Di pasar uang, komoditas yang diperdagangkan tak cuma
valuta asing. Menurut Theo, meski pemerintah mematok
kurs Rupiah, tak berarti kegiatan berhenti. Ada pelbagai
macam surat berharga dan surat-surat komersial yang
diperdagangkan.
Memang, belakangan problem ekonomi negara kita tak
cuma berasal dari dalam negeri, melainkan dari luar
negeri. Lembaga pemeringkat semacam Standard's &
Poor, sekalipun banyak dicibir, pengaruhnya terhadap
pasar sangat besar. Peringkat buruk yang disandangkan
kepada Indonesia, Maret lalu, adalah klimaks dari kesulitan
eksternal. Alat pembayaran berjangka seperti letter
of credit (L/C) tak diterima, investor asing pun tak
serta merta datang buat menanamkan modal. "Dengan
peringkat itu, pembeli kertas berharga dari Indonesia
tak lagi dianggap berinvestasi, melainkan dicurigai
mau berspekulasi," kata Theo. "Kalaupun saya,
misalnya, menempatkan diri sebagai broker untuk mendatangkan
uang dari investor asing, sekarang ini sangat sulit.
Ketidakpercayaan demikian kuat, perlu waktu lama untuk
memulihkannya."
Pasar uang dunia memang sulit dilawan. Kalau kekayaan
big boys sangat besar, itu konsekuensi dari hakikat
pasar uang. "Istilahnya a snowball business, bisnis
yang menggelinding bagai bola salju. Orang harus jadi
besar untuk survive."
Bisnis pasar uang, menurut Theo, menganut filosofi
dasar: bukan soal berapa jumlah uang yang akan Anda
peroleh, melainkan berapa jumlah uang yang siap Anda
habiskan. Gambarannya, jika seseorang kerja keras sepanjang
tahun hingga memperoleh uang Rp 1 miliar, akan sangat
keliru kalau menggunakannya untuk main forex. Tetapi
jika seseorang mendapat lotere Rp 1 miliar, yang Rp
800 juta untuk beli rumah/tanah, Rp 100 juta untuk beli
kendaraan, dan sisanya untuk main forex, silakan saja.
"Maka, kalau ada seorang fund manager siap menghabiskan
AS $ 5 miliar di pasar forex, tak terbayang berapa besar
kekayaannya"
Bisnis
di pasar uang tak sama dengan judi. Kata Theo, jika
judi nasib pelaku 100% tergantung pada kartu, "Di
pasar uang ada hal-hal yang bisa diperhitungkan dan
dicarikan peluang."
Menurut Theo, ada 7 tingkat yang harus dicapai untuk
betul-betul memahami bisnis ini. Selain 4 faktor penentu
nilai mata uang yang sudah disebut tadi, ada beberapa
hal lain seperti lobi atau hubungan, termasuk kemampuan
berbahasa, faktor intelijen alias daya endus informasi,
dan hal paling abstrak dan sulit, sehingga orang tak
sanggup berpikir lagi. "Misalnya, semua faktor
telah terpenuhi, prediksi sudah dilakukan, tapi tak
ada action. Ketika faktanya sama dengan yang sebelumnya
telah diperhitungkan, muncul rasa sesal kenapa tidak
begini kenapa tidak begitu. Itulah yang saya maksud
tingkat ketujuh."
Sekalipun menggiurkan, bisnis di pasar uang penuh kekecewaan.
"Karena apa? It's about money. Orang hanya tergiur
melihat angka. Mereka ramai-ramai bermain, sementara
tatanan dan hukumnya tak mudah dipelajari. Lagi pula
dunia itu sudah dikuasai mafia, big boys, dalam cara
kerja yang terintegrasi. Apa pun permainan para pendatang,
mafia-lah yang memperoleh keuntungan"
Menurut Theo, setelah perang dingin reda dan komunisme
runtuh, tak ada lagi kekuatan yang punya daya penghancur
sangat dahsyat selain uang. "Ketika uang menjadi
komoditas, dampaknya global. Bencana keuangan di suatu
negara segera bisa merembet ke negara lain. Siapa sekarang
orang kaya di kawasan krisis yang merasa terjamin hingga
7 keturunan? Tak terbayangkan, uang bisa berlipat kali
atau hancur sama sekali hanya dalam hitungan hari."
Jika ditarik ke dimensi filosofis, kata Theo, krisis
ekonomi adalah akibat ulah manusia yang menganggap uang
sebagai ideologi. Fakta menunjukkan, miliaran AS $ telah
menguap entah ke mana. Lembaga keuangan banyak yang
rugi, Soros rugi, demikian pula para big boy. Tak jelas
ke mana uang-uang itu pergi.
"Inilah tanda-tanda zaman," kata Theo. "Tuhan
kasih antibiotik untuk mereka yang terlalu menghamba
pada uang. Orang kaya pusing, konglomerat pusing. Rasain."
Main uang karena ingin
menikmati hidup
Terjunnya Theo di kancah pasar uang agaknya tak terduga
sebelumnya. Pria kelahiran Manado, 21 September 1956,
ini semula berangan-angan jadi pastor, tapi dikeluarkan
saat naik ke kelas 3 Seminari Menengah Tomohon tahun
1974. Anak ke-4 dari 7 bersaudara ini sama saja dengan
ayah, paman, para sepupu, dan saudaranya, yang pernah
masuk ke seminari namun gagal jadi pastor. "Saya
menanggung harapan besar. Nilai dan aktivitas sekolah
bagus. Maka ibu terguncang dan jatuh sakit ketika saya
keluar," kenangnya.
Pastor pembimbing waktu itu mengatakan, ia akan lebih
sukses hidup di luar biara. Kendati sedikit menyesalkan
keputusan itu, ia berbalik haluan. Ia melamar ke Bank
Indonesia dan diterima di BI cabang Surabaya. Setelah
2 tahun bekerja, timbul keresahan di antara teman-temannya
yang cuma berijazah SMA. Sebab dengan begitu, mereka
tak mungkin bisa masuk jajaran staf. "Nggak bakal
pakai dasi dong seumur-umur," papar Theo mengenang.
Nampaknya BI tanggap pada kegalauan itu dan mengadakan
seleksi untuk promosi. Yang lolos akan disekolahkan
sejajar dengan universitas. Dari BI Surabaya lulus 4
orang, salah satunya Theo. Sementara dari seluruh Indonesia
terjaring 60 orang. Mereka dimasukkan ke Pendidikan
Ahli Administrasi dan Keuangan Bank di Jakarta, menjalani
pendidikan maraton dari pukul 08.00 - 17.00 setiap hari
dengan fasilitas penuh, selama 3 tahun. "Gelarnya
sejajar akuntan, tapi BI nggak kasih gelar, takut kami
keluar."
Sempat bekerja di bagian pengawasan BI selama setahun,
ia kembali mengikuti seleksi intern guna ditempatkan
di London. Dari 40 peserta hanya Theo yang lulus. Di
London ia langsung jadi staf termuda pada umur 23 tahun.
Kesempatan di sana ia gunakan untuk mengikuti serangkaian
pelatihan dan praktek. Belajar forex di Paris, London,
Amsterdam, dan Kopenhagen. Mempelajari bank sentral
di Denmark dan Belanda, menggeluti cadangan emas di
Swis, juga duduk dan bermain di banyak ruang transaksi
forex. "Waktu itu kepala dealing room Jakarta pindah,
jadi saya disiapkan untuk menggantikannya. Saya sadar,
untuk jadi dealer harus punya pengalaman dan cakrawala
dengan duduk di pusat keuangan dunia."
Penempatan dealer di BI sebenarnya bertujuan untuk
mengelola cadangan devisa sejumlah AS $ 6 miliar dengan
menempatkannya di posisi yang tepat. Bukan untuk memperdagangkannya.
"Maka di luar jam kerja, saya main margin trading
atas nama pribadi, bukan BI."
Setelah 5 tahun bermukim di Inggris, Theo sebenarnya
ingin pulang ke tanah air, tetapi pemerintah Inggris
mengetahui reputasinya dan memberi izin tinggal tetap.
Ia bisa bekerja apa saja. "Wah, percaya dirilah
saya. Pekerjaan BI yang diidamkan banyak orang nggak
terlalu menggiurkan lagi," kata Theo.
Maka, ketika benar-benar pulang ke Indonesia ia sekaligus
minta izin keluar dari BI untuk masuk ke London School
of Economics (LSE). Maksudnya sebagai batu loncatan
untuk bekerja di Bank Dunia atau IMF. Tapi keasyikan
bermain forex membuatnya malas bersekolah. "Jiwa
saya player, jadi saya tak jadi masuk LSE meskipun sudah
diterima. Saya main valas terus, dan ingin menikmati
hasilnya. Saya ingin menikmati hidup bukan sebagai pegawai
BI yang bertahun-tahun cuma bisa naik mobil sederhana."
Saat main margin trading, pertengahan 1980-an, modal
dengkul masih berlaku. Modalnya dipinjami, tapi kalau
untung masuk kantung sendiri. Pokoknya main untuk meramaikan.
Masa itu tak sulit mereguk untung lantaran pasar gampang
diterka. Dolar turun searah. Tapi sejak 1987, peluang
meraup keuntungan makin sulit. Selain pemain makin banyak,
modal pun mulai diatur. Saat itulah Bank Duta terpuruk
karena permainan valas.
Soal kesempatan meraup untung memang tak ada yang lebih
cepat daripada main valas. "Saya masih ingat, hanya
dengan mengangkat telepon dari vila di Puncak sambil
main gaple dan makan pisang goreng, bisa dapat AS $
60.000 semalam."
Telepon
memang diibaratkan cangkulnya buat cari makan. Juga
berbagai perangkat komunikasi. Baik untuk bertransaksi
ke seluruh dunia, memantau pasar yang berjalan 24 jam
sehari, juga melihat kerugian dan keuntungan uangnya.
"Tapi hidup saya tak habis di sana. Apa lagi saya
harus membagi pengetahuan kepada banyak orang. Kalau
menulis dan bikin analisis, saya tak main. Saya meramal
dan menghitung, biar orang lain yang dapat keuntungan."
Theo tak terikat pada suatu lembaga keuangan. Kalau
mau main, ia sendiri yang menentukan. Sejak tahun lalu,
ia mendirikan perusahaan jasa konsultasi pasar uang
Speed Currency. Bagi yang ingin tahu atau ingin main
valas boleh jadi pelanggan. Dengan membayar AS $ 100/bulan,
Theo pun memberi analisis dan panduan.
"Cita-cita saya membuat Speed Currency seperti
Bloomberg. Ia besar dan disegani, meski awalnya juga
dirintis di garasi," ia menunjuk garasi di rumahnya
yang berhalaman luas di kawasan Lebak Bulus, Jakarta
Selatan. Ia mempekerjakan 4 orang yang, selain mengolah
analisis, juga bertindak sebagai fund manager. "Mereka
jago-jago yang tak bisa dianggap remeh, karena lewat
tangannya sering terjadi transaksi miliaran dolar,"
kata Theo bangga.
Karena bekerja di rumah, Theo tak terikat pada aturan
dan jadwal kerja yang pasti. Ia adalah pegawai bagi
dirinya sendiri. Juga pegawai yang mengantar anak-anak
ke sekolah, menemani mereka bepergian, bahkan mendampingi
saat mereka mau tidur.
Theo menganggap, anak-anak lebih memerlukan kebersamaan
ketimbang uang. Tak soal ia telah punya vila di Puncak,
Jawa Barat, dan hotel di atas tanah 10 ha di Manado.
Anak-anak pula yang menghadirkan cerita unik bagi perjalanan
hidup Theo. Saat masih di dalam kandungan, kecuali si
bungsu Daniel (hampir 2 bulan), mereka berada di tempat
yang jauh dari rumah. Dari yang sulung tempatnya paling
jauh, sampai si bungsu yang paling dekat. Namun akhirnya
semua lahir di Jakarta.
Menurut istrinya, Sandra Pingkan Adriana Lolong (38),
si sulung Monika (12) berada di dalam kandungan saat
mereka di New York . "Barulah 2 bulan menjelang
melahirkan, saya kembali ke Jakarta," kata Sandra.
Begitu pula Abi (9) yang dikandung saat mereka tinggal
di London. Keisha (7) anak ketiga, dikandung di Singapura.
Sedangkan Dorothea (5) dikandung sewaktu mereka di Manado.
Barulah anak ke-5, Daniel, menghabiskan seluruh masa
janin hingga lahir di Jakarta.
Jumlah anak sampai 5, bagi pasangan Theo dan Sandra
juga cerita tersendiri. Theo memang dari keluarga besar,
namun Sandra hanya 2 bersaudara. Setelah kelahiran Abi,
keduanya ingin ber-KB. "Tapi apa mau dikata, kebobolan
terus. Selain mengalami beberapa kegagalan, saya pun
pernah kehilangan spiral," kata Sandra. "Akhirnya,
setelah melahirkan Daniel, saya minta disteril."
Buat pasangan ini, anak-anak adalah segalanya. Mereka
yang terbiasa memanggil "Papa Theo" adalah
rekan sepanjang hidup, sekaligus jadi rem manakala Theo
terlalu keasyikan bermain uang. (G. Sujayanto/A. Heru
Kustara/Mayong S. Laksono)
Anda ingin bebas secara
Finansial seperti kisah di atas ? Silahkan klik di bawah
untuk mendaftar (Free) dan memulai Trading Forex
|